Selamat hari Senin. Kami berharap kiranya kita semua semakin peka terhadap tanda-tanda alam. Kejidian-kejadian di sekitar kita terutama yang berkaitan dengan ekosistem, kiranya bisa kita petik hikmahnya untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak-cucu kita di hari-hari yang akan datang.
Andai sutradara Luis Llosa menggarap film Anaconda di tahun 2000-an, maka mungkin kita akan bisa menyaksikan bagaimana tubuh molek dari artis nan cantik, Jennifer Lopez, dililit dan dirobek ular Anaconda secara lebih dramatis. Adegan dramatisasi yang kita bayangkan itu, kini sangat mungkin di digarap lewat teknik animasi.
Film Anaconda diproduksi pada pertengahan tahun 1990-an dan dirilis tahun 1997 dengan polesan animasi yang masih minim. Bandingkan dengan film King Kong garapan sutradara Peter Jackson, yang diproduksi tahun 2000-an dan digarap dengan teknik full animasi atau istilah cangihnya computer generated imagery (CGI). Teknik ini mampu mengeksploitasi adegan-adegan untuk tujuan mengaduk-aduk perasaan ngeri dan mencekam dari penonton.
Hasilnya, di King Kong kita bisa menyaksikan bagaimana artis Naomi Watss, yang juga cantik dan bertubuh molek, dicengkeram, dan dicengkeweng sambil loncat dari pohon ke pohon sangat besar dan jurang-jurang menganga, dalam genggaman tangan kasar-besar kera King Kong raksasa, dengan sangat dramatis.
Memang, dengan teknik animasi King Kong menelan modal untuk pembuatan film jauh lebih mahal dibanding film Anaconda. Tetapi, teknik animasi mampu mendatangkan keuntungan berlipat-lipat bagi King Kong dengan total keuntungan 550 juta dolar dari karcis film di gedung bioskop atau sekitar Rp 5,5 trilun
Keuntungan itu belum termasuk penjualan DVD yang berhasil meraup 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1 trilun. Prestasi ini mangantar film King Kong masuk dalam empat besar film terlaris dan paling menguntungkan sepanjang sejarah perfileman di Amerika Serikat. Sedangkan film Anaconda yang dibintangi artis serba busa J Lo, hanya meraup 136.885.767 dolar AS, dan tanpa pemecahan rekor.
Maka, mari kita bayangkan bagaimana kalau sutradara Peter Jackson (King Kong) membawa artis molek, Jennifer Lopez (Anaconda), ke Kampung Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai, Kabupatena Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur. Maksudnya agar kedua tokoh sineas itu punya imajinasi dan gagasan untuk membuat film di sungai Mahakam Ulu dengan ular naganya.
Tentu, nantinya film Ular Naga Mahakam ini dibuat dengan teknik CGI yang paling canggih. Ada beberapa alasan yang bisa ditawarkan kepada keduanya. Di antaranya, pertama, Ular Naga Mahakam dengan perkiraan panjang sekitar 40 meter yang fotonya bisa kita nikmati di Tribun Kaltim sejak edisi Kamis lalu , kini menjadi ular terpanjang di dunia.
Sebelumnya, ular terpanjang di dunia pegang oleh ular Titanoboa dari Kolombia. Ular titanoboa cerrejonensis itu memiliki panjang 14 meter atau sepertiga lebih pendek dibanding Ular Naga Mahakam.
Kedua, Titanoboa ditemukan oleh ilmuwan Kolombio sudah dalam bentuk fosil. Ia hidup sekitar 60 juta tahun yang silam. Sedangkan Ular Naga Mahakam masih hidup dan baru saja ditemukan di belantara hutan Kalimantan Timur. Maka, andai saja sutradara-sutrada dan bintang-bintang top dunia itu mendengar imajinasi kita, tentu Kaltim akan lebih mendunia.
Namun demikian ada pesan moral yang ingin kita sampaikan. Dari hasil analisa ilmuwan Kolombia terhadap Titanoboa disimpulan bahwa hewan berdarah dingin ini hidup dalam alam dengan suhu sekitar 30 derajat Celcius ke atas. Habitat alam seperti ini hanya ada di daerah tropis dengan tanah yang megandung batu bara.
Pertanyaannya, kenapa Ular Naga Mahakam tiba-tiba muncul berenang meliuk di permukaan air sungai di Riam Haloq, Kampung Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai. Analisis dari disiplin ilmu lingkungan hidup menyimpulkan bahwa pastilah ada ekosistem yang dibutuhkan oleh ular raksasa itu yang sedang terganggu.
Boleh jadi gangguan ekosistem itu memang sedang menimpa Kaltim. Mungkin karena kita tidak bijaksana dalam mengeksploatasi tambang-tambang batu bara milik kita bersama. Maka, mohon renungkan lebih jauh, makna dari munculnya Ular Naga Mahakam yang tiba-tiba itu, dikaitkan dengan perilaku ita terhadap alam Kaltim, khususnya dengan perilaku kita dalam mengelola sumber alam batu bara.
Pembaca yang saya hormati. Silakan meneruskan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi cetak dan online hari ini. Sesungguhnya lewat Tribun Kaltim kita juga bisa saling mengingatkan tentang banyak hal, termasuk dalam kepekaan kita terhadap alam dan lingkungan di sekitar kita.
Salam.
Home
»
»Unlabelled
» Ular Naga Mahakam
Ular Naga Mahakam
15.35
Obrolan
0 komentar:
Posting Komentar