Breaking News
Loading...
Senin, 30 November 2009

Krisis Dubai Diperkirakan Memicu Kenaikan Yield Sukuk

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis finansial di Dubai diperkirakan memicu kenaikan yield/imbal hasil sukuk di semua negara termasuk Indonesia. Hal tersebut dikatakan Direktur Pembiayaan Syariah Ditjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu), Dahlan Siamat di kantor Depkeu Jakarta, Senin (30/11).

Mengenai berapa besar potensi kenaikan yield sukuk, Dahlan menyebutkan, sudah ada sedikit kenaikan akibat kasus itu. "Kalau anda lihat dalam dua minggu ini, ada kenaikan sedikit yield sukuk," katanya.

Dahlan menjelaskan, tidak akan ada pelarian modal khususnya yang ditanam di sukuk negara karena berdasar UU, sudah dijamin pembayarannya. "Jadi apa yang akan dilakukan oleh investor asing di Timur Tengah, mereka justru akan memilih sukuk kita," jelasnya.

Ia menyebutkan, yang akan terjadi justru pelarian modal dari kawasan Timur Tengah menuju ke berbagai kawasan lain termasuk Indonesia. "Tidak hanya negara-negara emerging market, tetapi juga negara lain karena sekaran justru mereka menghindari instrumen utang Dubai," katanya.

Mengenai kebijakan yang akan ditempuh pemerintah terkait krisis finansial di Timur Tengah, Dahlan mengatakan, sementara ini pemerintah belum menetapkan kebijakan baru. "Lagipula kita belum lihat dampaknya, kita lihat dalam seminggu atau dua minggu ini," katanya.

Sebelumnya konsorsium Dubai World mengalami gagal bayar atas utang-utangnya sehingga meminta penangguhan pembayaran utang pokok (standstill) hingga enam bulan kepada para kreditor mancanegara. Konsorsium Dubai World sebagai pengelola pembangunan Dubai meminta para kreditor untuk bersabar menerima pembayaran utang hingga Mei 2010.

Utang pokok yang harus ditanggung Dubai World sebesar 60 miliar dolar AS. Bila termasuk bunga, beban yang harus ditanggung grup perusahaan dukungan pemerintah itu menjadi sekitar 80 miliar dolar AS.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer
Obrolan