Breaking News
Loading...
Kamis, 19 November 2009

Asteroid Mengancam Bumi

PADA zaman globalisasi yang serbamaterialistik ini siapa peduli dengan nasib dan masa depan Bumi? Manusia yang sibuk dengan upaya survival, yang sibuk melakukan pertarungan politik, sepertinya memang tak bisa diharapkan untuk memikirkan soal-soal yang futuristik berbau sains fiksi semisal tentang ancaman benda langit terhadap Bumi.

Jangankan yang berkaitan dengan keantariksaan, yang lebih mendesak pun, seperti isu pemanasan global akibat terkoyaknya lapisan ozon, banyak pihak yang cenderung apatis alias acuh.

Biarlah nanti alam yang akan memperlihatkan tanda-tandanya yang nyata, misalnya saat tudung es kutub meleleh akibat suhu Bumi yang naik beberapa derajad setelah pengekangan gas rumah kaca yang tak digubris. Saat itulah akan terjadi banjir yang akan menenggelamkan kota-kota pantai di berbagai tempat di dunia.

Perihal nasib Bumi, pada dasarnya orang memang tak usah merisaukan. Sejauh Bumi hanya dianggap sebagai benda angkasa anggota tata surya, yang mengelilingi matahari sekali setiap 365 hari, dengan kecepatan 18 km per detik, ia akan bertahan beberapa miliar tahun lagi.

Tetapi, apakah Bumi akan tetap menjadi rumah bagi manusia dan kehidupan lain seperti yang kita lihat sekarang ini sepanjang masa? Nanti dulu. Menurut teori evolusi bintang, matahari yang menjadi sumber kehidupan di Bumi masih akan berada dalam kondisinya seperti sekarang ini selama 4,5 miliar tahun lagi.

Setelah itu, ia akan tumbuh berkembang menjadi bintang raksasa merah (red giant stellar). Saat itulah planet terdekat dengan matahari, yaitu Merkurius, akan ditelan, dan Venus akan dibakar. Nasib Bumi kita sendiri tak akan jauh berbeda dengan kedua planet konjugasi dalam itu, yakni akan terpanggang.

Tapi, mungkin saat itu Bumi sudah tidak dihuni lagi oleh manusia. Bisa jadi karena manusianya telah ’’transmigrasi’’ ke planet lain di luar tata surya kita, dan kemungkinan besar Bumi memang sudah tak bisa dihuni lagi.

Bayangkan saja dengan populasi penduduk yang terus membengkak, apakah ia akan sanggup menyediakan bahan pangan dan sandang? Apakah Bumi akan terus sanggup menyediakan air bersih dan bahkan udara segar untuk bernapas?

Setelah didahului oleh serangkaian konflik memperebutkan sumber alam yang makin terbatas—inilah ramalah paling realistik mengenai konflik masa depan yang telah melewati era konflik ideologis—bangsa-bangsa pemenang tetap akan menentukan bahwa kondisi Bumi sudah tidak layak untuk ditinggali lagi.

Mungkin teknologi wahana ruang angkasa semisal pesawat ulang-alik (space shuttle) pada masa itu telah cukup maju sehingga bisa membawa manusia Bumi yang survive untuk hijrah ke planet lain.

* * *
Mungkin saja itu hanya cerita fiksi ilmiah semata seperti halnya cerita film Star Trex atau Flash Gordon. Tetapi begitulah prakiraan ilmiah berdasarkan apa yang terjadi pada saat ini.

Sementari itu, di saat manusia masih terus melahirkan polusi, masih terus menjubelinya dengan penduduk yang makin bertambah secara deret ukur, Bumi masih terus saja setia mengitari matahari sebagai induknya, sebagaimana dilakukan oleh planet-planet lain, dari Merkurius hingga Neptunus.

Dalam kerutinan mengelilingi matahari inilah, Bumi sebenarnya tidak terbebas dari ancaman tabrakan dari benda-benda angkasa lainnya, seperti asteroid (yang melenceng dari orbit lazimnya di antara planet Mars dan Jupiter), atau kepingan komet yang setelah mendekati matahari beberapa kali biasanya mengalami disintegrasi.

Ancaman ini bisa ringan, tetapi juga bisa berat. Pecahan-pecahan benda langit di atas, yang tidak cukup besar, lazimnya habis terbakar saat memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, menghasilkan kelebatan cahaya yang dikenal sebagai meteor atau orang Jawa menyebutnya lintang alihan (bintang yang berpindah).

Manakala benda langit yang menuju ke Bumi berukuran besar; berdiameter beberapa kilometer; mungkin saja ia masih tersisa meski telah terbakar saat bergesekan dengan atmosfer Bumi. Inilah yang mengerikan.

Peristiwa seperti ini diduga pernah terjadi di Tangushka, sebuah kawasan hutan di Siberia (Rusia) pada tahun 1937. Atau yang lebih spektakuler lagi yang menimbulkan kawah besar seperti dijumpai di Arizona, Amerika Serikat, dengan garis tengah 1.219 meter.

Di Tanah Air kita, pada 8 Oktober 2009 juga telah terjadi sebuah ledakan dahsyat di perairan teluk Bone, Sulawesi Selatan, yang diduga akibat jatuhnya meteorid yang berasal dari asteorid berdiameter sekitar 10 kilometer ke Bumi.

“Ledakan terjadi karena tekanan atmosfer menyebabkan pelepasan energi cukup besar, mengingat kecepatan jatuh meteor itu sekitar 20,3 km/detik atau 73,083 km per jam,’’ kata pakar astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Anatriksa Nasional (LAPAN), Dr Thomas Djamaluddin

Sistem pemantau internasional untuk larangan percobaan nuklir dari 11 stasiun, ujarnya, melaporkan telah mendeteksi adanya ledakan besar yang berpusat di sekitar lintang 4,5 LS dan bujur 120 BT, sekitar pukul 11:00 WITA pada 8 Oktober lalu.

Analisis ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar 50 kiloton TNT (trinitrotoluena) atau telah melampaui kekuatan bom atom, sehingga sinyal ledakan tersebut dapat mencapai stratosfer yang tingginya lebih dari 20 km.

Kebanyakan asteroid yang jatuh tidak menyebabkan kerusakan di Bumi, kecuali diameternya mencapai lebih dari 25 meter.

Dikatakan Djamal, berdasarkan perkiraan sebaran meteoroid-asteroid di antariksa dekat bumi, objek seperti itu punya kemungkinan jatuh di bumi setiap 2 sampai 12 tahun.

Selain asteroid, bisa saja Bumi bertabrakan dengan sebuah komet, sebagaimana diyakini pernah terjadi 65 juta tahun silam.

Peristiwa ini juga diyakini telah melenyapkan dinosaurus dari muka Bumi, karena tabrakan membuat Bumi menjadi gelap selama beberapa bulan, mematikan sumber pangan hewan purba itu.

Inilah sebenarnya ancaman yang datang terus menerus terhadap Bumi kita. Tetapi karena permukaan Bumi kita 70 persen berupa lautan, maka sebagian besar impak benda angkasa juga terjadi di laut.

Di luar aspek ancaman itu, lewatnya Bumi ke daerah reruntuk komet juga memberi atraksi menarik bagi penghuni Bumi. Seperti yang terjadi pada 21 Oktober 2009 lalu, telah terjadi hujan meteor tahunan Orionid. Hujan meteor ini bisa terjadi saat Bumi melintasi jalur yang dilalui Komet Halley.

Di jalur itu terdapat serpihan-serpihan material komet yang berpijar dan tampak seperti hujan cahaya ketika masuk atmosfer Bumi.

Sebagian material yang tersisa berukuran sebesar kacang, meski kebanyakan sebesar butir pasir.’’Butiran debu komet yang bertabrakan dengan atmosfer akan memberikan lusinan hujan meteor tiap jam,’’ujar Bill Coke dari pusat penelitian meteorid NASA.

Hujan meteor Orionid yang menjadi latar depan gugus bintang Orion, termasuk yang paling indah menghias langit malam. “Sejak 2006, Orionid menjadi tontonan menakjubkan dengan 60 atau lebih meteor tiap jam,” tambah Coke.

Itulah sekadar fenomena alam yang hari-hari ini menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Menanggapi peristiwa itu, syukurlah bila masyarakat kita tidak panik. (Amien Nugroho-10)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer
Obrolan