Breaking News
Loading...
Selasa, 08 Juni 2010

Bahan Pangan Olahan, Amankah?

Pangan olahan yang dijual kepada masyarakat belum juga aman. Masih ada produsen pangan yang belum bertanggung jawab akan keamanan pangan yang dijualnya. Sementara kepedulian konsumen masih rendah karena terbatasnya pengetahuan dan rendahnya daya beli.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Kustantinah dalam lokakarya ”Jejaring Promosi dan Keamanan Pangan”, Senin (31/5). Masih ditemukan bahan berbahaya pada makanan yang beredar. Misalnya, bahan berbahaya pengawet, pewarna tekstil, boraks, pemanis buatan, dan bahan berbahaya lain.

”Tahun 2010 ini, periode Januari-April, BPOM mengunjungi 128 sekolah dasar di Jakarta dengan mobil laboratorium keliling yang bisa mendeteksi bahan berbahaya atau tidak. Dari sampel yang diambil, sekitar 21 persen mengandung bahan berbahaya,” ujarnya.

Bahan berbahaya itu terdapat, antara lain, dalam makanan seperti mi bakso, siomay, kerupuk, dan sirup-sirup berwarna menarik. Makanan itu sering dikonsumsi anak-anak, padahal berdampak buruk pada kesehatan. ”Kami memberikan penyuluhan melalui komite sekolah atau pengawas sekolah agar mereka juga mengawasi,” ujarnya.


Banyak variasi dan luas

Dia mengatakan, kendala pengawasan, antara lain, adalah banyaknya variasi makanan dan luasnya area yang diawasi. Oleh karena itu, sistem pengamanan mesti terpadu. Hal itu membutuhkan kemitraan dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan media massa.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, dari penelitian Organisasi Pangan Dunia, kaum perempuan memproduksi sekitar 70 persen bahan pangan di negara sedang berkembang dan bertanggung jawab atas 50 persen produksi pangan dunia.

”Sekarang peran itu sebagian diambil produsen pangan sehingga lebih efisien, tetapi jadi sulit mengontrolnya,” ujarnya. Menurut dia, perempuan masih dapat berperan dengan mendidik keluarga dan anak untuk mengonsumsi pangan yang aman. Adapun Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Gustiana mengatakan, tanggung jawab terbesar untuk menjamin keamanan pangan berada di tangan pemerintah dan produsen. (INE)



Waspadai racun di sekitar kita!

poison_signHampir semua produk perawatan (consumer product) yang tersedia ternyata mengandung bahan kimia dan pengawet. Hal ini mengundang perhatian para aktivis lingkungan, ilmuwan, hingga orang biasa yang khawatir dengan efek samping bahan pengawet.

"Boleh dibilang semua produk perawatan mengandung bahan beracun. Kebanyakan memang dalam jumlah sangat kecil untuk menimbulkan bahaya kesehatan. Tetapi, terkadang paparan dalam jumlah sedikit juga bisa mendatangkan dampak yang besar," kata Alan Greene, MD, guru besar klinis bidang anak dari Stanford University dan penulis buku Raising Baby Green.

Ironisnya, karena produk-produk tersebut dianggap aman, penggunaannya pun tak terkendali. "Setiap hari kita terpapar oleh berbagai bentuk bahan kimia, padahal kita belum tahu apa dampaknya bagi kesehatan," kata Rebecca Sutton, PhD, senior ilmuwan dari Environmental Working Group.

The Center for Disease Control (CDC), lembaga pengawasan penyakit AS, saat ini tengah memonitor kadar bahan-bahan kosmetik dan produk perawatan lain dalam darah yang dilakukan secara acak kepada orang-orang Amerika.

Untuk mengetahui bahaya yang mungkin terkandung dalam produk yang biasa kita pakai sehari-hari, simak penjelasan berikut ini:


Phthalates
Phthalates, dibaca Thal-ates, senyawa kimia ini biasanya dipakai untuk memberi efek harum dalam produk sehari-hari. Phthalates ini juga dipakai dalam bahan baku pipa, tirai kamar mandi, vernis, atau lantai vinil.

"Beberapa jenis phthalates diketahui berfungsi seperti hormon dalam tubuh," kata Green. Dalam riset percobaan terhadap hewan diketahui phthalates dalam dosis tinggi mengganggu produksi hormon.

Paparan phthalates dalam dosis kecil di suatu produk memang aman. Tapi faktanya phthalates ada di mana-mana, bahkan dari debu di luar ruangan yang kita hirup. Hasil riset CDC menunjukkan adanya kadar phthalates dosis rendah dalam darah manusia.

Beberapa riset membuktikan paparan phthalates pada manusia mungkin terkait dengan berkurangnya jumlah dan kualitas sperma pada pria. Wanita hamil yang terpapar bahan kimia ini juga diduga menyebabkan perubahan bentuk genital alat kelamin bayi laki-laki.

Sambil menunggu bukti-bukti terbaru dari riset tentang phthalates, tak ada salahnya bila kita mulai mengurangi penggunaan produk yang mengandung bahan ini, khususnya untuk ibu hamil dan anak-anak.

Sayangnya, phthalates seringkali bersembunyi dalam kandungan fragrance atau pengharum, sehingga agak sulit mengetahui produk mana yang mengandung bahan ini. Sebagai opsi, hindari produk yang bebas pengharum atau pilih produk yang memakai minyak esensial, seperti lavender atau citrus.


Parabens
Bahan kimia ini biasanya dipakai sebagai bahan pengawet kosmetik untuk mencegah pertumbuhan mikroba dan melindungi kosmetik dari kontaminasi bakteri atau jamur. Hampir semua kosmetik, mulai dari pelembap, perawatan rambut, produk untuk pencukur janggut, hingga makanan dan obat, mengandung parabens.

Parabens bekerja seperti hormon estrogen dalam tubuh, meski dampaknya ringan. Sebuah riset menunjukkan ditemukannya parabens dalam jaringan tisu contoh tumor payudara, tetapi studi tidak menyebutkan bahwa parabens menyebabkan kanker.

Para ilmuwan dari FDA menyatakan parabens aman, tetapi masih dibutuhkan penelitian lanjutan. Sebagai konsumen, tak ada salahnya kita berhati-hati. Periksa label bahan yang dipakai dalam produk. Sebaiknya pilih yang tidak mengandung paraben, seperti methylparaben, butylparaben, atau propylparaben.



Musk
Wangi musk yang lembut memang jadi favorit banyak orang. Namun, aroma musk yang kini banyak dipakai dalam berbagai produk dibuat dari sintesa bahan kimia di laboratorium.

Selain dipakai dalam produk parfum, nitro musk dan polycyclic musk juga dipakai dalam produk pencuci pakaian. Penelitian yang dilakukan pada tahun 1990 menunjukkan penggunaan musk sintetis bisa menyebabkan efek racun di tubuh dan merusak jaringan tisu.

Setelah studi tersebut, para produsen memang mengurangi kadar penggunaan musk dalam produknya. Tetapi kini musk tetap dipakai dalam produk kebersihan, seperti pelembut pakaian, sabun cuci, hingga parfum.

Musk sintetis yang paling banyak dipakai adalah jenis Tonalid dan Galaxolide. Sayangnya dua produk ini sering tersembunyi dalam kata fragrance di label produk. Bila Anda ingin menghindarinya, pilih produk tanpa parfum atau pilih produk yang menulis lengkap kandungannya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer
Obrolan